Jakarta – Saham pertambangan batu bara milik Grup Bakrie dan Salim, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), kembali menjadi sorotan pelaku pasar dalam beberapa waktu terakhir.
Pasalnya, pergerakan saham ini dinilai agresif setelah mencatatkan lonjakan signifikan dalam sebulan perdagangan terakhir, meski laju penguatannya mulai tertahan di level tertentu.
Hingga penutupan trading, Selasa (6/6/2026), saham BUMI berada di level Rp 464 per saham.
Posisi tersebut tercatat stagnan dibandingkan perdagangan hari sebelumnya, namun secara akumulatif saham BUMI telah menguat sekitar 93,33 persen dalam kurun satu bulan terakhir, mencerminkan tingginya minat spekulatif investor.
Analis teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai pergerakan saham BUMI masih berada dalam fase tren naik.
Menurut dia, secara teknikal, belum terlihat adanya sinyal pembalikan arah yang mengindikasikan pelemahan dalam waktu dekat.
“Kendati begitu, tampaknya beberapa hari ini harga belum mampu menembus level resistance pada Rp 466–Rp 476 karena terdapat tekanan jual,” kata Reza, dikutip Kontan, Selasa (6/1/2026).

Menurut Reza, tekanan jual di area tersebut membuat ruang penguatan jangka pendek menjadi terbatas. Meski demikian, peluang reli lanjutan masih terbuka selama saham ini mampu bertahan di atas area support kunci.
Ia merekomendasikan strategi buy on pullback bagi investor yang ingin memanfaatkan koreksi harga. Level support berada di kisaran Rp 400–Rp 428, dengan target penguatan selanjutnya diproyeksikan menuju rentang Rp 476 hingga Rp 510 per saham.
Dari sisi fundamental dan aksi korporasi, BUMI juga mencatatkan perkembangan penting melalui penyelesaian proses akuisisi lanjutan terhadap Jubilee Metals Limited (JML).
Perusahaan asal Australia ini bergerak di sektor pertambangan emas dan beroperasi di wilayah Northern Queensland.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti saluran kami di Channel WhatsApp
