“Kami sudah berkomunikasi dengan BUMN, khususnya PT Pertamina, agar kolaborasi ini membuat Bobibos menjadi kebanggaan dan bagian dari kedaulatan energi Indonesia,” kata dia.
Ikhlas menekankan bahwa seluruh riset dan pengembangan Bobibos dilakukan 100 persen di dalam negeri. Bahan bakar alternatif ini masih menunggu izin untuk produksi massal.
Setelah diluncurkan pada 2 November lalu, sekitar 3.000 liter Bobibos sudah diproduksi dan digunakan untuk uji coba skala kecil di Jonggol.
Inovasi Bobibos lahir dari upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi. Selama lebih dari 10 tahun, Muhammad Ikhlas Thamrin melakukan riset mandiri untuk menemukan alternatif energi yang bersumber dari bahan baku lokal.
Jerami dipilih karena ketersediaannya yang melimpah di Indonesia serta efisiensi produksinya yang tinggi. Dengan bahan baku lokal tersebut, biaya produksi juga dapat ditekan sehingga harga jual Bobibos ditargetkan lebih kompetitif dibandingkan bahan bakar konvensional.
Selain memberikan manfaat bagi sektor energi, penggunaan jerami sebagai bahan baku juga menciptakan nilai ekonomi baru bagi petani.
Limbah yang sebelumnya tidak bernilai, kini dapat diolah menjadi produk bernilai jual, sehingga petani dapat memperoleh tambahan penghasilan. (*)
Simak berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti saluran kami di Channel WhatsApp
