“Ini adalah kabar yang menggembirakan, dan optimis ke depannya akan ditemukan lagi cadangan migas di blok ini”, imbuh Benny.

Eksplorasi Offshore di Aceh Terakhir 10 Tahun Lalu

Temuan ini juga menjadi titik bali eksplorasi di offshore Aceh. Berdasarkan catatan SKK Migas, terakhir kali ada temuan cadangan migas lepas pantai Aceh pada 2012 atau 10 tahun lalu.

Premier Oil kembali melakukan eksplorasi setelah melihat potensi yang sangat baik di blok ini. Seiring dengan akan dimulainya pembahasan work, program & budget (WPnB) tahun depan, Benny mengatakan SKK Migas akan mendorong Premier Oil untuk kembali melakukan investasi di blok ini, agar dapat ditemukan discovery dimasa mendatang.

“Blok Andaman dekat dengan infrastruktur migas sehingga setiap penemuan di blok ini akan lebih cepat untuk dapat dilakukan komersialisasi. Mudah-mudahan kedepannya dapat menghidupkan kembali infrastruktur migas di Arun Aceh,” terang Benny.

Untuk penemuan hasil pengeboran sumur eksplorasi Timpan-1, SKK Migas segera melakukan koordinasi dengan KKKS Premier Oil agar temuan yang ada dapat segera ditindaklanjuti dalam upaya mengkomersialisasikan temuan ini sehingga akan berdampak positif bagi peningkatan produksi migas nasional.

Momentum harga minyak dunia yang tinggi dan diprediksikan berlangsung dalam waktu yang lama akan membantu meningkatkan keekonomian dalam pengembangan proyek di hulu migas, sehingga kesempatan ini sudah seharusnya dapat ditindaklanjuti oleh Premier Oil dengan segera melakukan plan of development (POD) atas hasil penemuan tersebut.

Premier Oil merupakan anak usaha Harbour Energy, salah satu perusahaan migas dunia negara Inggris yang memiliki participating interest sebesar 40 persen sekaligus menjadi operator, British Petroleum 30 persen, dan Mubadala Petroleum 30 persen. Temuan Premier Oil, kata Benny, menunjukkan potensi hulu migas di Indonesia masih menarik bagi investor asing.(*)

Sumber: Kumparan

Simak berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti saluran kami di Channel WhatsApp