Oleh: Junia Fitri, S.Pd

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), stunting didefinisikan sebagai indikator status gizi tinggi badan menurut umur (TB/U) sama dengan atau kurang dari minus dua standar deviasi (-2 SD) di bawah rata-rata standar.

Menurut sulisttyawati, stunting merupakan keadaan tubuh yang pendek atau sangat pendek sehingga melampaui defisit-2 SD di bawah median yang panjang atau tinggi badan. Pada tahun 2017, 22,2% balita di dunia mengalami stunting. Stunting merupakan masalah gizi utama di Indonesia dengan prevalensi sebesar 29,6% pada tahun 2017.

Stunting dapat disebabkan oleh tidak akuratnya asupan makanan bergizi, riwayat ASI eksklusif, berat badan lahir rendah, dan riwayat infeksi. Stunting dapat berdampak terhadap perkembangan motorik dan verbal, peningkatan penyakit degeneratif, kejadian kesakitan dan kematian.

Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa terdapat pengaruh stunting terhadap perkembangan kognitif dan prestasi belajar anak yang dapat menurunkan produktivitas kerja sehingga pada akhirnya dapat menghambat pertumbuhan kognitif dan psikomotorik dari penderita stanting itu sendiri.

Remaja merupakan fase yang penting pada perkembangan manusia ketika perkembangan sosial, biologi dan psikologi terjadi(WHO, 2014b). Remaja terdiri atas dua tahapan yaitu remaja awal ketika berusia 10-14 tahun dan remaja akhir berusia 15-19 tahun. Secara global sekitar 1,2 triliun penduduk di dunia diperkirakan akan menjadi remaja yang mencapai 16% dari populasi dunia dan hampir 90% dari mereka negara-negara dengan pendapatan menengah ke bawah.

Pada fase remaja mereka mengadopsi peran sosial yang lebih jelas dan meletakkan dasar untuk masa depan mereka(Sawyer et al., 2012). Gizi yang tepat selama fase remaja sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal dan mungkin berpengaruh terhadap kesehatan generasi dimasa yang akan datang (Black et al., 2013).

Stunting pada remaja terjadi karena masalah gizi saat balita atau pra-sekolah. Malnutrisi yang terjadi pada masa balita yang mengindikasikan stanting, akan berakibat pada pertumbuhan dan perkembangan remaja terhambat. Dampak jangka panjang dari stunting pada kesehatan remaja putri adalah berupa perawakan tubuh pendek, peningkatan resiko obesitas, dan penurunan kesehatan reproduksi, sedangkan dampak pada hal perkembangan ialah penurunan prestasi dan kapasitas belajar, serta penurunan kemampuan dan kapasitas kerja (Daru, 2017).

Simak berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti saluran kami di Channel WhatsApp