Blangpidie – Tak lama lagi umat muslim di seluruh dunia akan menjalani ibadah puasa (saum) Ramadhan 1447 Hijriah/ 2026 Masehi.
Ramadhan dalam bahasa Arab yakni رَمَضَانُ merupakan bulan kesembilan dalam kalender Hijriah. Puasa Ramadhan merupakan salah satu dari rukun Islam.
Pada bulan ini, umat Muslim akan berpuasa selama 29-30 hari berdasarkan pengamatan hilal.
Penetapan tanggal pertama puasa tidak semata-mata berdasarkan kalender Masehi, tetapi mengikuti kalender Islam (Hijriah) yang bersifat lunar dan pada umumnya ditetapkan melalui metode hisab (perhitungan) atau rukyat (pengamatan hilal).
Di Indonesia, penetapan awal Ramadhan merujuk pada tiga otoritas utama, yaitu Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Pemerintah Republik Indonesia, yang masing-masing memiliki mekanisme penetapan berbeda.
Sebagaimana dijelaskan dalam berbagai sumber, beberapa umat Islam di Indonesia memiliki pendekatan yang sedikit berbeda dalam menentukan awal Puasa Ramadan 1447 H/2026 M.
Muhammadiyah
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah resmi mengumumkan jadwal Puasa Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
Penetapan ini berdasarkan hasil hisab hakiki wujudul hilal yang menjadi acuan organisasi, sebagai mana disampaikan melalui maklumat resmi yang ditandatangani Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.
“Menurut hisab hakiki wujudul hilal, posisi bulan sudah memenuhi syarat sehingga 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026,” demikian isi maklumat PP Muhammadiyah, dikutip , Rabu (21/1/2026).
Metode penentuan awal puasa yang digunakan Muhammadiyah berbeda dengan pemerintah yang masih menerapkan rukyatul hilal atau pengamatan bulan secara langsung. Muhammadiyah mengandalkan pendekatan ilmiah melalui perhitungan astronomi.
Metode hisab hakiki wujudul hilal merupakan perhitungan astronomi yang menggabungkan data posisi matahari dan bulan secara akurat. Dengan pendekatan ini, Muhammadiyah dapat menentukan awal Ramadhan, Syawal, maupun Zulhijjah tanpa bergantung pada pengamatan langsung.
Selain itu, Muhammadiyah telah lama menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Kalender ini berfungsi sebagai acuan resmi dalam menetapkan ibadah berbasis penanggalan Hijriah. KHGT mengintegrasikan perhitungan astronomi secara global, sehingga mampu memberikan kepastian waktu yang konsisten.
Selain menetapkan ramadhan tahun ini, PP Muhammadiyah dalam maklumatnya juga telah memutuskan jadwal Idul Fitri 1447 H yang jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Penetapan ini, menurut Majelis Tarjih dan Tajdid, didukung oleh sistem HisabMu. Sistem ini merupakan perangkat hisab digital yang dikembangkan Muhammadiyah untuk meningkatkan akurasi dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Nahdatul Ulama
Hingga saat ini, Nahdlatul Ulama (NU) belum mengumumkan secara resmi tanggal awal puasa Ramadan 1447 H karena masih menunggu hasil rukyatul hilal.
Meski demikian, berdasarkan kalender Almanak NU, awal puasa kemungkinan diprediksi jatuh pada 19 Februari 2026.
Dilansir NU Online, Nahdatul Ulama menetapkan awal Ramadhan menggunakan metode hisab imkan rukyat, yakni perpaduan antara perhitungan astronomi dan pengamatan hilal secara langsung (rukyatul hilal) pada akhir bulan Syaban.
Dalam praktiknya, NU dalam menggunakan metode Hisab Hakiki Imkan Rukyat sebagai alat bantu, menetapkan ketinggian hilal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat (3-6.4). Hal ini sesuai dengan kriteria terbaru yang ditetapkan oleh Majelis Ulama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).
Metode penentuan awal bulan Hijriah oleh NU, baik untuk menandai permulaan bulan Ramadhan, Syawal, atau bulan lainnya, didasarkan pada penglihatan bulan secara fisik (rukyatul hilal bil fa’li). Hilal diamati pada hari ke-29 malam ke-30. Jika hilal terlihat, maka itu menandakan awal bulan baru. Sebaliknya, jika hilal tidak terlihat, maka malam itu masuk tanggal 30.
Pemerintah Republik Indonesia
Pemerintah juga belum menetapkan resmi 1 Ramadhan 2026 sebelum sidang isbat, tetapi perkiraan awal puasa berdasarkan kalender resmi kemungkinan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Meskipun demikian, penetapan akhir tetap menunggu keputusan sidang isbat yang biasa digelar sehari sebelum puasa.
Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan awal Ramadhan melalui mekanisme rukyatul hilal yang dilaksanakan pada tanggal 29 Syaban.
Hasil pengamatan tersebut kemudian dibahas dalam sidang isbat yang melibatkan ulama, ahli falak, dan instansi terkait.
Penetapan ini dikenal sebagai itsbatul ‘aam, yakni keputusan yang berlaku secara nasional bagi umat Islam di Indonesia. Apabila hilal tidak terlihat, maka bulan Syaban digenapkan menjadi 30 hari.
Sambil menunggu hasil resmi sidang isbat, kalender perkiraan menunjukkan kemungkinan awal puasa pada 19 Februari 2026. Sidang isbat menjadi rujukan resmi pemerintah dalam menetapkan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. (*)

Tinggalkan Balasan