Lebih lanjut, ia mengajak jamaah untuk mengaitkan shalat dengan tanggung jawab menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Menurutnya, shalat yang benar seharusnya tercermin dalam kepedulian terhadap anggota keluarga agar sama-sama menegakkan ibadah.
Ia menyoroti kondisi ketika seseorang rajin shalat secara pribadi, namun abai terhadap shalat istri dan anak-anaknya, atau sebaliknya. Ustaz Nashrullah mengingatkan pentingnya memastikan seluruh anggota keluarga menjalankan shalat sebagai bagian dari komitmen keimanan.
Selain itu, shalat juga harus tercermin dalam perilaku bermuamalah sehari-hari. Ia menegaskan bahwa shalat yang baik akan mendorong seseorang bersikap jujur, adil, dan menjaga kehalalan dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Adakah dalam bermuamalah kita menjalankan prinsip ‘antharadimminkum? Keridhaan antara pembeli dan penjual?” ujarnya.
Ia mengingatkan agar umat Islam tidak mencampuradukkan antara yang halal dan haram dalam mencari nafkah. Menurutnya, keberkahan hidup sangat bergantung pada kesesuaian antara ibadah dan perilaku ekonomi yang dijalani.
Pada bagian akhir khutbah, Ustaz Nashrullah menegaskan bahwa shalat juga berfungsi sebagai penjaga diri dari perbuatan keji dan mungkar. Ia mengingatkan agar seseorang tidak terjebak dalam kemunafikan dengan tetap shalat namun terus melakukan maksiat.
“Jangan sampai shalat tetap kita laksanakan tapi maksiat tiada henti kita lakukan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam literatur Islam, usia 40 tahun menjadi titik penting dalam kehidupan seorang muslim, apakah ia akan menuju husnul khatimah atau justru menetap dalam kebiasaan buruk. Ia menegaskan bahwa amalan pertama yang akan dihisab di hari kiamat kelak adalah shalat.
Sebagai penutup, Ustaz Nashrullah mengajak jamaah untuk mentadabburi dan menghafal doa dalam Alquran Surat Al-Ahqaf ayat 15 sebagai bentuk harapan agar Allah SWT meridai amal ibadah yang dilakukan, serta menjadikannya teladan bagi keturunan.
“..sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim.”
(QS. Al-Ahqaf 46: Ayat 15)

Tinggalkan Balasan