Gegara Cinta Buta, Pria Ini Nekat Jual Genteng Rumah Mendiang Orang Tuanya

  • Whatsapp
Gegara Cinta Buta, Pria Ini Nekat Jual Genteng Rumah Mendiang Orang Tuanya
Gegara Cinta Buta, Pria Ini Nekat Jual Genteng Rumah Mendiang Orang Tuanya. (Foto : kumparan.com)

GLOBAL BANTUL – Terkadang benar kata-kata dalam sebuah ungkapan, bahwa cinta itu memang benar-benar buta, seperti nyanyian lagu Malaysia yang dilantukan grup musik Exist.

Tidak percaya?, Lihat saja tingkah yang dilakukan oleh pria berinisial DRS (25), asal Paten, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul ini.

DRS tega menjual sebagian besar atap genteng rumah milik orang tuanya dan sekaligus isi perabotan rumahnya untuk berfoya-foya demi sang dambaan hatinya.

Tindakan DRS ini menjadi viral di sosial media, sehingga membuat netizen bikin geleng-geleng kepala.

Kanit Reskrim Polsek Pundong, Ipda Heru Pracoyo, membenarkan peristiwa ini. Ia membeberkan awal mula peristiwa itu terjadi. Ayah pelaku sebenarnya telah meninggal beberapa waktu lalu.

Hal itu, membuat Paliyem (53), ibu pelaku, harus bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di Kecamatan Kasihan, Bantul, dan tinggal di sana. Pelaku pun tinggal sendiri di rumah orang tuanya.

“Anaknya (pelaku) itu tinggal di rumah (orang tuanya) sendiri kerja ngojek sepeda motor (ojol) itu di Terminal Giwangan,” kata Heru kepada wartawan, Selasa (23/11/2021).

Namun, pelaku ini tidak bisa bekerja sebagai ojek lagi lantaran motornya digadaikan temannya. Bukannya berusaha bagaimana caranya bisa bekerja, pelaku malah mulai kenal dengan perempuan.

Perkenalan itu tampaknya justru menjerumuskan DRS dalam dunia kriminal. Sekitar 14 Oktober lali, dia mulai menjual perabotan rumah mulai dari meja, kursi, hingga lemari.

“Ibunya tidak tahu karena tinggal di tempat dia kerja,” ujarnya.

Puncaknya, pada 7 November, genting rumah pelaku turunkan. Genting pun sudah naik truk untuk dijual tetapi berhasil dicegah warga.

“Ibunya dikabari lalu pulang,” jelas Heru.

Usut punya usut, tabiat buruk pelaku ini memang sudah dirasakan sang ibu. Sang ibu pun tak memberitahu alamatnya bekerja kepada sang anak, karena khawatir membuat ulah. Warga sekitar juga kerap menasihati pelaku.

“Kebangetan itu anak. Nah itu orang tuanya udah bilang selama ini dari dia sendiri dari keluarga dari Pak RT sudah menasihati tetap enggak bisa (tetap bandel), minta intinya dilanjutkan (proses hukum),” ujar Heru.

Keinginan Paliyem melanjutkan kasus ini ke ranah hukum tak lain agar anaknya mendapat efek jera. Polisi sebenarnya telah memberi kesempatan Paliyem untuk berpikir kembali, tetapi keputusannya sudah bulat.

“Paginya tetap melaporkan. Ya udah, kita dari polsek melayani sesuai keinginan ibu,” bebernya.

Polisi lantas memproses DRS dan menahannya di Polsek Pundong. Dia harus mempertanggung jawabkan aksinya dan terancam pasal 367 KUHP, tentang pencurian dalam keluarga. Hukumannya pun mencapai 5 tahun penjara.

Foto : kumparan.com

Perabotan Dijual Murah

Dari pendalaman polisi, perabotan dijual DRS dengan harga yang sangat murah. Uang hasil penjualan kemudian digunakan untuk foya-foya dengan perempuan kenalannya.

Contohnya saja lemari, daun pintu, kursi panjang hanya dijual Rp 500 ribu. Kemudian sejumlah daun pintu, kursi, meja, lemari hanya dijual Rp 700 ribu. Padahal untuk harga normal satu daun pintu bisa mencapai Rp 2 juta.

Jika ditotal kerugian mencapai lebih dari Rp 20 juta. “Jadi buat foya-foya saja,” terang Heru.

Soal perempuan yang bersama DRS, Heru mengaku tidak mengetahui detail identitas. Namun, perempuan itu berasal dari Ngawi, Jawa Timur, yang dikenal DRS di Terminal Giwangan. (*)

Pos terkait