Meraih Gelar Doktor, Anak Petani Miskin di Abdya Patut di Tauladani

  • Whatsapp
Meraih Gelar Doktor, Anak Petani Miskin di Abdya Patut di Tauladani
Dr. Mukhtar Amfat, S. Fil. I., MA. (Foto : Ist)

GLOBAL BLANGPIDIE – Dr. Mukhtar Amfat, S. Fil. I., MA., adalah seorang anak petani miskin di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) kini berhasil mewujudkan impiannya. Ia akhirnya meraih gelar doktor di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hifayatullah, Jakarta.

Perjuangan gigih Amfat tidak lepas dari semangat orangtuanya yang berprofesi sebagai petani. Amfat adalah anak pertama dari tiga bersaudara yang dibesarkan dengan kesederhanaan.

Kerja keras orang tuanya, mengantarkan dia berkuliah selepas lulus Sekolah Aliyah MAN 2 Banda Aceh. Padahal kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan.

Lulus Aliyah di Ibu Kota Provinsi sesuatu yang asing bagi seorang anak petani miskin. Namun tekad juangnya tidaklah surut, modal nekat ia telah lulus. Konflik Aceh tidak mematahkan semangat dirinya untuk belajar.

Kisah perjalanan Amfat dalam dunia pendidikan pun terbilang panjang, sebab putra asli Desa Kuta Bahagia atau dikenal Gampong Paya, Kecamatan Blangpidie ini harus berusaha sendiri untuk membiayai kuliahnya.

“Alhamdulillah, atas karunia Allah SWT dan doa orang tua, serta para sahabat, saya dapat menyelesaikan studi Doktor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, telah berhasil mempertahankan disertasinya pada ujian promosi doktor yang dilaksanakan pada tanggal 11 Juni 2021, dan disertasi tersebut telah hadir dalam bentuk buku yang berjudul “Transformasi Nilai Islam Menuju Pemikiran Politik Nasional: Konsepsi dan Praksis Politik Ali Hasjmy,” ucap Amfat, Dr. Filsafat Politik Islam ini saat diwawancarai acehglobalnews.com, Minggu (7/11/2021) malam.

 

Pemilik akun facebook Amfat Es Dot Fil ini menceritakan, ia lulus S1 di UIN Ar Raniry pada tahun 2008, setelah putus asa karena Tsunami sempat belajar di Pesantren Yasin Banjar Baru Kalimantan Selatan.

Kemudian, kembali pulang ke Aceh menyelesaikan kuliah sarjana pada Fakultas Ushuluddin jurusan Aqidah dan Filsafat di UIN Ar Raniry.

Ia berkerja sendiri sebagai seorang tukang jahit di Banda Aceh. Tanpa sokongan biaya apapun dari orang tua, Amfat berusaha mandiri, sehingga akhirnya tuntas menyelesaikan S1 di UIN Ar Raniry Banda Aceh.

Putra dari pasangan Amiruddin dan Fatimah Nur ini juga pernah menjadi asisten dosen di UIN Ar-Raniry. Tahun 2012, Amfat menyelesaikan studi S2 dalam jangka waktu dua tahun di UIN Sumatera Utara dengan jurusan Islamic Thougth (Pemikiran Islam).

Ia didapuk sebagai dosen tidak tetap di Unsyiah. Hingga akhirnya Amfat memperoleh status dosen tetap di Al-Washliyah Banda Aceh.

“Melalui lembaga pendidikan swasta inilah saya bisa mendaftar beasiswa Kemenag program 5.000 doktor dalam negeri dengan tujuan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Pengkajian Islam konsentrasi Pemikiran Politik Islam,” ulas Amfat.

Setelah melalui proses panjang perekrutan beasiswa doktoral, pada tahun 2018, ia diterima sebagai mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Amfat Kuliah sejak 3 September 2018, dalam rentang waktu waktu selama 2,5 tahun meraih impiannya menjadi seorang doktor.

Selama menempuh kuliah S3, Amfat harus berhenti menjadi tukang jahit, lantaran harus fokus kuliah. Sementara itu, ia juga harus mencapai target tiga tahun tanggungan beasiswa Kemenag, maka kesempatan itu pun ia manfaatkan sebaik mungkin.

“Alhamdulillah, selesai lebih awal. Enam semester ditanggung beasiswa, dalam jangka waktu lima semester berhasil saya menyelesaikan studi doktoral. Jika tidak, maka seluruh biaya akan ditanggung sendiri,” ujarnya.

Amfat berharap, Pemerintah Daerah Abdya agar memberikan perhatian penuh kepada putra-putri terbaik daerah yang menempuh jenjang pendidikan lebih tinggi seperti doktor, master, dan spesialis, atau program pendidikan profesi apapun.

“Pendidikan harus menjadi perhatian penuh dari Pemda. Bantuan belajar harus bersifat aktif, cari mereka-mereka yang saat ini sedang menyelesaikan studi tahap akhir, data mereka dan berikan bantuannya. Jangan cukup berpikir memadai dengan beasiswa saja, kadangkala beasiswa dari pihak tertentu tidak sepadan dengan pengeluaran yang dihadapi mahasiswa,” tuturnya.

Amfat menjelaskan, pendidikan adalah aset terbesar dalam kemajuan sebuah daerah, maka Pemda harus turun tangan sepenuhnya, tidak cukup memberi seadanya saja.

Apalagi, lanjut dia, mahasiswa yang sedang menyelesaikan pendidikan strata dua, tiga, dan spesialis tertentu butuh biaya yang tidak sedikit.

“Pemda harus menggalakkan dan memberi semangat melalui anggaran APBK untuk generasi Abdya agar mereka bersemangat melanjutkan pendidikannya,” tambah Amfat.

Ia juga mengungkapkan, di Abdya sudah berdiri kampus Muhammadiyah, tentunya peran Pemerintah Daerah sangat dibutuhkan untuk memberi akses belajar bagi dosen-dosen di daerah untuk melanjutkan studinya.

“Jika bukan Pemda siapa lagi yang membantu meningkatkan potensi pendidikan daerah. Membiarkan mereka berjuang untuk mendapatkan beasiswa secara nasional sangatlah berat. Semakin tinggi syarat yang ditetapkan oleh pihak-pihak yang memberi beasiswa, semakin jauh dari jangkauan putra daerah. Dengan demikian, peran pemda sangat diharapkan,” kata Amfat. (*)

Pos terkait